
Daftar Isi
Kopers pernah mengira barang mewah hanya diburu orang super kaya? Namun, saat ini faktanya berbeda, 75% pembeli barang mewah justru berasal dari kelas menengah dan bawah.
Hal ini dipicu oleh fenomena “Aspiration luxury” atau “mass luxury”, yaitu dorongan membeli barang mewah demi pencapaian, pengakuan, atau citra sosial. Banyak orang rela menyisihkan sebagian besar penghasilannya hanya untuk memiliki tas branded, jam tangan mahal, atau gadget baru.
Tujuannya sederhana agar merasa naik kelas di mata orang lain. Lantas, apa itu sebenarnya aspiration luxury? Untuk mengetahui jawabannya, yuk simak artikel ini Minkop akan menjelaskan lebih dalam fenomena tersebut.
Apa Itu Aspiration Luxury?
Aspiration luxury adalah fenomena ketika seseorang membeli barang mewah sebagai bentuk pencapaian, pengakuan sosial, atau sekedar untuk terlihat naik kelas. Bagi sebagian orang, barang seperti tas branded, jam tangan mewah, atau gadget terbaru bukan sekedar kebutuhan melainkan simbol status.
Fenomena ini banyak terjadi di kalangan kelas menengah dan kelas bawah yang rela menyisihkan sebagian besar pendapatannya demi memiliki barang impian. Walau harus mengorbankan pos keuangan lain.
Ciri-Ciri Pembeli Barang Mewah

Berikut adalah beberapa ciri-ciri pembeli barang mahal yang didukung oleh fenomena aspiration luxury.
1. Mengutamakan gengsi daripada Fungsi
Ciri-ciri pertama adalah biasanya barang yang dibeli bukan karena manfaat utamanya, melainkan demi citra dan penampilan di depan orang lain.
2. Sering Membeli untuk Koleksi atau Tren Sesaat
Selanjutnya, barang premium dibeli biasanya karena sedang tren, meskipun nantinya barang jarang dipakai. Hal ini dilakukan untuk mencapai kepuasan, dan mendapatkan pengakuan sosial.
3. Rela Mengorbankan Tabungan
Umumnya, pembeli barang mahal rela mengorbankan tabungannya. Baik itu tabungan pendidikan, investasi, atau dana darurat. Hal ini bisa berdampak buruk pada keuangan Kopers.
4. Lebih Aktif di Media Sosial Saat Membeli
Alih-alih produk dipakai untuk kegunaannya, biasanya para pembeli barang mahal dari kelas menengah dan bawah cenderung memamerkan pembelian di media sosial. Hal ini dilakukan sebagai bentuk validasi dari orang lain.
Boleh Beli Barang Mewah, Tapi Ingat Menabung

Membeli barang mahal sebenarnya boleh dan tidak ada yang salah. Itu adalah hak setiap orang sebagai bentuk apresiasi diri. Namun, akan menjadi masalah besar jika:
- Tidak memiliki dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran
- Tidak pernah atau jarang menabung
- Mengandalkan utang konsumtif untuk membeli barang premium
Tanpa pondasi keuangan yang kuat, gaya hidup high class bisa menjadi bumerang dan mengorbankan masa depan finansial.
Solusi Beli Barang Mewah Tetap Jalan, Keuangan Tetap Aman

Kalau Kopers ingin tetap membeli barang mewah tanpa mengorbankan masa depan, mulailah dengan membangung tabungan yang aman dan produktif. Salah satu caranya adalah menabung di Koperasi Digital Propertree.
Koperasi Digital Propertree menawarkan tabungan yang lebih ringan, dana Kopers bisa berkembang setiap tahunnya sebesar 4% untuk Sisuka (Simpanan Sukarela) dan 10% untuk Sijaka (Simpanan Berjangka).
Tak hanya itu, koperasi ini juga aman dan transparan sudah berizin dan diawasi oleh Kementerian Koperasi (Kemenkop). Dengan begitu, Kopers bisa tetap membeli barang mewah yang Kopers mau di masa depan tanpa menguras tabungan atau mengorbankan dana darurat.
Fenomena 75% pembeli barang mewah berasal dari kelas menengah dan bawah menunjukkan bahwa aspiration luxury sudah menjadi gaya hidup banyak orang. Tidak ada yang salah dengan ingin tampil stylish, tapi pastikan keuangan Kopers sehat terlebih dahulu.
Mulailah menabung di Koperasi Digital Propertree supaya Kopers bisa tetap gaya tanpa mengorbankan masa depan!
Jangkau informasi menarik lainnya terkait news, edukasi, investasi, finansial, dan bisnis di blog Koperasi Propertree!





