
Daftar Isi
Setelah tahu bahwa orang kaya tidak pernah menaruh semua uangnya di satu tempat, mungkin Kopers jadi bertanya-tanya, “kalau begitu, gimana caranya mulai diversifikasi investasi kalau modal masih terbatas dan belum berpengalaman?”
Diversifikasi investasi tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya atau investor berpengalaman. Siapa pun, termasuk pemula dengan modal kecil, bisa mulai menerapkannya asal tahu caranya. Yuk, simak langkah-langkahnya di bawah ini!
Apa Itu Diversifikasi Investasi?
Diversifikasi investasi adalah strategi menempatkan dana ke beberapa instrumen berbeda, alih-alih menaruh semuanya di satu tempat. Tujuannya, supaya ketika satu instrumen sedang turun nilainya, instrumen lain masih bisa menopang portofolio agar tidak rugi besar.
Prinsipnya mirip pepatah “jangan taruh semua telur dalam satu keranjang”. Kalau keranjangnya jatuh, semua telur bisa pecah. Tapi kalau telurnya dibagi ke beberapa keranjang, risiko kehilangan semuanya jadi jauh lebih kecil.
Kenapa Pemula Perlu Melakukan Diversifikasi Investasi?

Sebelum masuk kecaranya, penting untuk memahami dulu alasan diversifikasi ini disarankan, terutama bagi pemula yang baru belajar investasi.
- Mengurangi risiko kerugian besar: Setiap instrumen investasi punya fluktuasi yang berbeda. Saat satu turun, instrumen lain berpotensi tetap stabil atau bahkan naik.
- Melindungi nilai uang dari inflasi: Uang yang hanya disimpan diam di satu tempat, apalagi tanpa imbal hasil, nilainya akan terus tergerus inflasi dari waktu ke waktu.
- Membuka peluang keuntungan dari berbagai sisi: Dengan menyebar dana ke berbagai instrumen, peluang mendapatkan keuntungan pun datang dari berbagai arah, bukan cuma bergantung pada satu instrumen saja.
Cara Memulai Diversifikasi Investasi Minim Risiko

Inilah cara yang bisa Kopers terapkan, meskipun baru pertama kali terjun ke dunia investasi.
1. Kenali Profil Risiko Diri Sendiri
Sebelum memilih instrumen, kenali dulu seberapa besar kemampuan dan kesiapan diri menanggung risiko. Ada yang nyaman dengan instrumen berisiko rendah meski imbal hasilnya juga rendah, ada pula yang berani mengambil risiko lebih tinggi demi potensi keuntungan yang lebih besar.
Bagi pemula, umumnya Minkop sarankan untuk memulai dari instrumen berisiko rendah hingga menengah terlebih dahulu sebelum mencoba instrumen yang lebih fluktuatif.
2. Tentukan Tujuan Keuangan
Diversifikasi akan lebih terarah kalau Kopers sudah punya tujuan yang jelas, misalnya dana darurat, dana pendidikan anak, dana pensiun, atau sekadar ingin mengembangkan tabungan.
Tujuan ini akan menentukan berapa lama jangka waktu investasi dan seberapa besar porsi dana yang perlu dialokasikan ke masing-masing instrumen.
3. Pilih Beberapa Instrumen dengan Karakter Berbeda

Setelah tahu profil risiko dan tujuan keuangan, mulailah membagi dana ke instrumen dengan karakter yang saling melengkapi. Misalnya, kombinasi antara instrumen dengan potensi pertumbuhan seperti reksadana atau emas.
Tidak perlu langsung banyak, cukup mulai dari dua hingga tiga instrumen yang benar-benar dipahami.
4. Mulai dari Nominal Kecil dan Konsisten
Diversifikasi tidak harus dimulai dengan modal besar. Pemula bisa memulai dari nominal kecil terlebih dahulu, lalu menambah porsi investasi secara bertahap dan konsisten setiap bulannya.
Paling penting Kopers harus dapat membangun kebiasaan, bukan langsung mengejar hasil besar di awal.
5. Rutin Evaluasi dan Sesuaikan Portofolio
Kondisi keuangan dan tujuan hidup bisa berubah seiring waktu, begitu juga performa masing-masing instrumen investasi. Karena itu, luangkan waktu secara berkala untuk mengevaluasi portofolio, apakah alokasinya masih sesuai dengan tujuan awal atau perlu disesuaikan kembali.
Instrumen Minim Risiko yang Cocok Pemula
Bagi yang baru memulai, ada baiknya fokus dulu pada instrumen dengan tingkat risiko rendah hingga menenang, seperti:
- Simpanan berjangka dengan imbal hasil tetap.
- Reksa dana pasar uang yang cenderung stabil.
- Emas instrumen yang dapat melindungi nilai dari inflasi.
- Koperasi Digital Propertree dengan imbal jasa 12% per tahun.
Kombinasi instrumen di atas bisa menjadi fondasi awal sebelum Kopers mencoba instrumen dengan risiko yang lebih tinggi seperti saham.
Mulai Diversifikasi Investasi Minim Risiko di KDP

Setelah memahami caranya, saatnya Kopers mempraktikkannya. Salah satu instrumen yang bisa dijadikan bagian dari strategi diversifikasi minim risiko adalah menabung di Koperasi Digital Propertree (KDP).
Dana yang Kopers simpan di KDP minim risiko, tidak akan tergerus inflasi, dan bisa memberikan imbal hasil hingga 12% per tahun melalui program SIJAKA (Simpanan Berjangka).
Seluruh aktivitas simpanan juga dapat dipantau secara transparan melalui aplikasi dan KDP telah legal, berizin, serta diawasi oleh Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Tertarik menjadikan KDP sebagai bagian dari portofolio diversifikasi investasimu? Yuk, segera unduh aplikasinya di Google Play Store atau App Store!
Daftarkan diri sebagai anggota, lakukan simpanan pokok Rp1 juta yang dibayarkan sekali selama menjadi anggota, dan simpanan wajib Rp100 ribu setiap bulannya.
Setelah itu, Kopers bisa langsung memilih program SIJAKA dengan imbal jasa hingga 12% per tahun, atau SISUKA dengan imbal jasa 4% per tahun, sebagai salah satu pos dalam strategi diversifikasi investasimu.
Lihat informasi menarik lainnya seputar koperasi, investasi, finansial, bisnis, dan edukasi hanya di news.koperasipropertree.id!





